Pontianak,- Para pesilat unggulan masih melangkah mulus ke bebak berikutnya dalam kejuaraan pencak silat tingkat remaja se-Kota Pontianak Bang Hersan Cup. Sukses itu diraih setelah mengalahkan lawan-lawan mereka di hari kedua, Rabu (23/1) kemarin di GOR Pangsuma Pontianak.
Diawali dengan pertarungan di kelas G putra, Sy.Sarbani yang mengibarkan bendera Rajawali Putih masih terlalu tangguh bagi Junuardi (Kunfu Sahita). Lima hakim yang bertugas semuanya mengangkat bendera untuk kemenangan Sarbani yang memastikan langkahnya ke babak berikutnya.
Kemenangan serupa diperlihatkan Mukhlis. Pesilat dari perguruan ASAD itu mengatasi perlawanan Anugrah dari Wekasan juga dengan skor 5-0. Skor tersebut juga Adikara (Kancil Utara) yang mengalahkan Yudiviar dari BTP di kelas A Putra. Usman juga unggul 5-0 atas Prasetiyo dari PSHT. Sedangkan Aditya yang berlaga di kelas C putra dan tampil dengan mengusung pergurun Nurussalam juga tak mampu dihadang Angga dari Kancil Utara. Sigit Abdullah di kelas D putra mewakili Cuyika BP mengatasi perlawanan Windi A dari Tapak Suci. Sementara Bayu Satria (BTP) juga unggul atas Tahsin dari Rajawali Putih.
Kemenangan-kemenangan mudah pesilat unggulan juga terjadi di kelompok putri. DS Lesmana dari PSHT tak terbendung sama sekali oleh lawannya Setio Rini (Putra Setia) dengan skor 5-0, Essi Noviandini (Buana) juga unggul 5-0 atas Sri Karmana (Tapak Suci). Syarifah Indah yang tampil bersama Kijang Berantai (Kiber) mengatasi Dhea Kriska (Kancil Utara) juga dengan 5-0. Sementara Krisna dari PSHT menyudahi lawannya Syafariah (Buana) dengan skor 5-0, disusul Fitri Novia A (Putra Setia) yang masih terlalu tangguh bagi Stefani (Rajawali Putih), Noviana (Selti) di kelas D mengatasi Ayu A (Wekasan) dengan skor 5-0, Oktaviani (Kiber) juga mengalahkan Kressa (PSHT) di kelas D putri.
Dari 34 pertandingan yang digelar kemarin, hanya tiga pertandingan yang berlangsung seru dan ketat, bahkan mendebarkan para pendukungnya. Itu diperlihatkan di kelas B putri ketika Ratih (Kancil Teratai) berhadapan dengan Suryana (Rajawali). Kualitas teknik dan jurus-jurus yang diperlihatkan tak jauh berbeda membuat wasit harus ekstrakeras mencermati pertandingan tersebut. Dari lima hakim, tiga di antaranya memenangkan Ratih dari Kancil Teratai yang berhak lolos ke babak berikutnya.
Situasi serupa juga terjadi saat pertandingan di kelas C putra antara M.Rifki (Damdam) melawan Rauyan (PSHT). Dalam laga tersebut M.Rifki akhirnya unggul dengan skor 3-2. Sementara Abdurrahman (PSHT) juga harus menang susah payah atas Beni S (ASAD) dengan skor 3-2.
Ketua IPSI Kota Pontianak H.Gst.Hersan Aslirosa, SE mengaku cukup bangga dengan ketatnya persaingan para pesilat dalam kejuaraan tersebut. “Itu menandakan pencak silat di Kota Pontianak semakin merata,” katanya. (har).
Google searching your sites
1.24.2008
Pesilat Unggulan Melangkah Mulus
Warga yang Selamat Diungsikan Aparat TNI
Warga yang diutamakan adalah anak-anak, orang tua dan perempuan dan mereka diangkut dengan kendaraan aparat. Mereka yang sudah terkena musibah, lantas aparat melakukan evakuasi dan mengumpulkan mayat-mayat tersebut dalam satu tempat. Demikian simulasi bencana gempa bumi dan tsunami yang dilaksanakan di Kuala, kemarin.
Sebelumnya, latihan Simulasi Penanggulangan Bencana Alam Gempa Bumi dan Tsunami diawali dengan upacara pembukaan di Lapangan Upacara Makodim 1202/Singkawang. Bertindak selaku Inspektur Upacara Wakil Walikota Singkawang dalam sambutanya Wakil Walikota Singkawang Drs. H. Edy R. Yacoub, M.Si mengatakan 83% wilayah Indonesia rawan bencana, dan peran TNI selalu menjadi sorotan, walapun TNI dalam Undang-Undang Pertahanan Negara maupun Undang-Undang TNI jelas menyebutkan TNI hanya sebatas membantu instansi lain sesuai permintan.
Walaupun demikian menurut Drs. H. Edy R. Yacoub, M.Si lagi “Presiden selaku Panglima Tertinggi Angkatan Darat, Angkatan laut dan Angkatan Udara dapat mengerahkan TNI dalam keadaan memaksa untuk kemudian dimintakan persetujuan DPR RI termasuk pengerahan TNI untuk penanggulangan bencana alam yang membutuhkan penangulangan cepat”.
Karena itu Drs. H. Edy R. Yacoub, M.Si mengatakan untuk penanggulangan bencana alam diperlukan penataan ulang peran dan tanggung jawab setiap badan atau instansi dengan tujuan agar keseluruhan upaya menjadi optimal demi terbebasnya rakyat dari penderitaan bencana alam yang berkepanjangan.
Wakil Walikota Singkawang Drs. H. Edy R. Yacoub, M.Si menyampakan atas nama Pemerintah Kota Singkawang mengucapkan terima kasih danpenghargaan yang setinggi-tingginya kepada Komandan Kodim 1202/Singkawang dan jajarannya atas prakarsanya menyelenggarakan latihan simulasi bencana alam gempa bumi dan tsunami di Singkawang.
Selesai upacara pembukaan seluruh petugas dari Unsur TNI AD, Kepolisian, Pemkot Singkawang, PMI, Pramuka, Pemadam Kebakaan, RAPI dan Organisasi lain menuju Pelabuhan Kuala untuk melaksanakan simulasi latihan bencana alam gempa bumi dan tsunami.
Dalam skenario latihan telah terjadi gempa bumi diikuti gelombang tsunami yang melanda sekitar Pelabuhan Kuala. Masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi kejadian berlarian menyelamatkan diri ke kantor Lurah yang berfungsi sebagai posko penanganan korban sementara. Korban yang cidera maupun yang meninggal dunia diidentifikasi dan didata oleh petugas, sementara korban yang selamat dinaikan ke kendaran untuk diungsikan ke tempat yang lebih aman di Gunung Sari.
Menurut Suhardi Jaib Ketua RT 10 latihan ini cukup meyakinkan hamper mirip keadaan yang sebenarnya masyarakat yang selamat di posko sementara selanjutnya dievakuasi ke tempat yang aman”
Dalam latihan simulasi tersebut terlihat petugas dengan serius melaksanakan tugas dan fungsinya baik petugas kesehatan, pendataan maupun pengatur lalu lintas. Partisipasi masyarakat Kuala dalam Latihan simulasi ini patut dihargai, mereka menyambut dan antusias mengikuti latihan simulai gempa bumi dan tsunami layaknya seperti kejadian yang sebenarnya. Tentunya ini tak lepas dari peran Ketua RT dalam mendorong partisipasi masyarakatnya.
Seperti yang dikatakan Syafran Madhan Ketua RT 7 yang menyambut baik latihan ini, menurutnya lagi paling tidak masyarakat dapat mengetahui dan mengantisipasi bagaimana harus berbuat jika bencana terjadi. Hal senada juga disampaikan Ramli Ketua RT 8 menyambut baik latihan smulasi ini menurutnya latihan ini merupakan rahmat karena Kuala daerah yang berhadapan langsung dengan laut jadi dengan adanya latihanini masyarakat yang tidak tahu menjadi tahu berbuat apa kalau terjadi bencana tsunami. (zrf)
Danrem: Tangkap Pemilik Modal
Danrem mengatakan, diameter kayu jenis Meranti yang diangkut tersebut cukup besar, sekitar 1,5 meter hingga 2 meter. Panjang kayu log mencapai 20 meter. “Mereka mengaku akan membawa kayu tersebut untuk dijual di Pontianak,” katanya.
Danrem mengharapkan, pihak kepolisian dapat menyidik tempat penebangan kayu liar, hingga cukong yang memodalinya. Masyarakat setempat, kata Danrem, hanya dijadikan tameng para cukong kayu. “Mustahil kayu-kayu tersebut milik masyarakat, lantaran kayunya masih dalam bentuk log dan hanya bisa ditebang dan diangkut dengan alat berat,” ujar Danrem.
Kolonel Inf Edy Susanto didampingi bagian operasi, Letkol Inf Bulo, langsung meninjau ke tempat kejadian perkara dengan menggunakan helikopter TNI AD, PO 105, Rabu (23/1). “Penangkapan ini berkat laporan masyarakat setempat terkait maraknya peredaran kayu dari arah hulu,” tukasnya menjawab Pontianak Post.
Danrem menjelaskan, personil gabungan Korem 121/ABW bersama Batalyon Infantri 642 Kapuas, pada Selasa (22/1) berhasil mendapati sebuah motor air mengangkut sekitar 400 batang log. “Anggota TNI lantas menanyakan surat-surat penyerta kayu tersebut, namun nahkoda kapal tidak bisa menunjukkannya,” kata Danrem.
Akhirnya, ratusan batang kayu tersebut dibawa menuju hilir beserta kapal motor yang mengangkutnya. Yonif 642 Kapuas, segera berkoordinasi dengan Polres Sintang, terkait dengan penyidikan tersangka serta pengamanan barang bukti.
Dari keterangan sementara yang didapat dari hasil interogasi di lapangan, Danrem mengatakan nahkoda menyatakan kayu-kayu tersebut milik masyarakat setempat. Namun, penyidikan lebih lanjut, diserahkan Danrem kepada petugas penyidik dari kepolisian.
Malamnya, sekitar pukul 21.00 WIB, penyisiran kembali dilakukan personil TNI. Beberapa kilometer dari penangkapan pertama, didapati dua kapal motor yang mengangkut kayu dalam jumlah yang lebih besar. “Sempat ada perlawanan dari masyarakat, saat TNI AD hendak mengamankan kayu-kayu log tanpa dokumen. Namun kemudian dilakukan pendekatan secara persuasif,” kata Danrem lagi. Namun, Danrem menjelaskan perlawanan yang dimaksud tidak sampai menyebabkan adanya kontak senjata, atau bahkan kontak fisik dengan personil TNI.
Setelah dihitung, jumlah log yang diangkut cukup besar. Tak kurang dari 800 batang kayu log yang diangkut dua kapal tersebut. Barang bukti berupa kayu serta kapal motor kemudian digiring ke arah Kota Sintang, untuk dilimpahkan ke Polres Sintang. Termasuk dua tersangka, yakni pengemudi kapal motor tersebut.
Rabu pagi kemarin, Danrem kemudian bertolak ke Sintang, untuk melihat langsung hasil penangkapan yang dilakukan anggota TNI. Helikopter yang membawa Danrem serta pejabat tinggi di Korem 121/ABW bertolak sekitar pukul 09.00 WIB. “Tetapi sekitar pukul 14.00 WIB, personil Korem 121/ABW kembali berhasil menggagalkan tiga kapal motor yang mengangkut ratusan log,” katanya.
Kayu-kayu tersebut, diduga berasal dari Desa Nibung, salah satu kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu. Setelah dihitung, terdapat sekitar 800 batang log yang diangkut tiga kapal motor.
Barang bukti berupa kayu dan para tersangka saat ini telah dilimpahkan ke Polres Sintang untuk penyidikan lebih lanjut. Sedangkan kapal motor, sedianya akan diserahkan Danrem kepada Polisi Perairan Polda Kalbar.(le
1.23.2008
Biografi Kahlil Gibran (1883-1931)
Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.
Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.
Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.
Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.
Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.
Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.
Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.
Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.
Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.
Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".
Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.
Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."
Bahan dirangkum dari:
Buku : 10 Kisah Hidup Penulis Dunia
Judul : Khalil Gibran
Editor : Anton WP dan Yudhi Herwibowo
Penerbit : Katta Solo, 2005
Halaman : 63 - 70
Singkawang ....
Telah menjadi suatu hal yang tidak bisa dipungkiri juga Kota seribu kuil menjadi nama yang tepat untuk sebuah kota yang masyarakatnya dihuni mayoritas warga Tionghoa..
Untuk lebih lanjut mengungkap kisah kota Singkawang , dipersilahkan untuk go ke websitenya Kota Singkawang ... www.singkawang.go.id
Ratu Felisha Beradegan Panas
Jatah Pangkalan Dijadikan Operasi Pasar
“Pertamina sudah menyetujui pengambilan jatah pangkalan untuk dijadikan operasi pasar. Jadi, pemkot mengambil empat tangki demi untuk menyuplai kebutuhan minyak tanah ini kepada masyarakat yang membutuhkannya,” kata Nadjib. Mantan Assisten I Setda Singkawang ini mengungkapkan, langkah operasi pasar seperti ini adalah kali pertama di Kalbar dan sudah dilakukan dibanyak daerah.
“Operasi pasar guna mengatasi persoalan mendesak ini sudah dilakukan di Medan dan daerah lainnya. Hanya di Kalbar kita yang pertama. Kita minta dukungan semua pihak, agar operasi pasar ini berjalan lancar,” kata dia. Selain itu, kata dia, pemerintah juga mohon pengertian dari para pangkalan demi mengatasi persoalan mendesak yang dibutuhkan oleh masyarakat lapisan bawah ini....( baca lengkap di www.pontianakpost.com)